Teater Sinden UMM dan Tunggak Semi Gelar Diskusi Malang Ngeludruk

Satu hari sebelum pementasan karya kelompok seniman teater Tunggak Semi yang bekerjasama dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) Teater Sinden Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), diadakan diskusi bersama mahasiswa yang dihadiri sebagian peserta teman-teman FISIP. Diskusi ini merupakan lanjutan diskusi seusai Joko Saryono menyampaikan materi Seni, Tradisi, dan Wawasan Budaya di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM 29 November 2014.

IMG_20141029_112612

Menurut Ketua Panitia acara Malang Ngeludruk, Riza Nuriskia, acara ini diadakan untuk membangkitkan gairah mahasiswa terhadap kesenian Ludruk agar tidak hanya disukai oleh kalangan orang tua saja. “Anak muda pun harus bisa menikmati Ludruk sebagai teater tradisional karena banyak pementasan teater modern. Kita ingin mengenalkan budaya lokal supaya mahasiswa tahu Ludruk karena jarang-jarang Ludruk ada di kampus”, kata dia.

Sutak Wardhiono saat menjelaskan adegan-adegan dalam Ludruk
Sutak Wardhiono saat menjelaskan adegan-adegan dalam Ludruk

Dalam materi yang lebih mengulas mengenai praktik Ludruk ini, pemilik sanggar Tunggak Semi Sutak Wardhiono secara gamblang menjelaskan perihal Ludruk yang sampai saat ini menjadi identitas orang Jawa Timur. Bersama tim yang dibawanya, Sutak memperkenalkan secara garis besar ciri umum Ludruk Jawa. Ludruk daerah mana bisa diketahui dari kulturnya. Jika memakai kultur ‘arekan’ berarti Ludruk tersebut biasanya dipentaskan di orang-orang Malangan, Suroboyoan, Sidoarjo, Jombang. Berbeda pula dengan kultur yang lebih halus yang biasanya dipakai di daerah Kediri atau Bojonegoro.

Salah seorang anggota Tunggak Semi mencontohkan adegan Puris
Salah seorang anggota Tunggak Semi mencontohkan adegan Puris

Dalam Ludruk tidak dikenal istilah sutradara yang semana mestinya dikenal di perfilman. Ludruk hanya mengenal istilah PD (Program Director) yang tugasnya sebagai instruktur per adegan. Ludruk juga tidak mengenal penjurian aktor (casting). “Karya Ludruk sulit dipertanggungjawabkan, jadi saling lempar berbeda dengan naskah yang sudah pasti. Tidak ada proses mencari dan merebut karakter. Siapa pun ras, fisik atau kulit apa pun yang paling penting pribadi dapat berimigrasi ke karakter yang dimainkan, sing pantes lan sing iso”, jelasnya.

Wito (Batik Hitam Merah) saat mendemokan Ngidung dan Yono (Batik Ungu) memainkan peralatan
Wito (Batik Hitam Merah) saat mendemokan Ngidung dan Yono (Batik Ungu) memainkan peralatan

Diakhir acara workshop, Sutak memeperlihatkan sedikit suguhan anak didiknya dalam Puris. Puris adalah adegan dalam Ludruk dimana tokoh berbicara sendiri di panggung mengnalkan diri akan meemrankan tokoh apa. Karena pengaruh panggung, Puris juga dapat memberikan waktu yang lebih lama kepada penata set untuk men-setting latar yang ada dibelakang.

Diperkenalkan pula Wito dan Yono maestro Kidungan. Wito menjelaskan, Kidungan wajib dalam Ludruk selain Ngeremo dan Parikan. Kidungan sesi dimana menyanyikan tembang Jawa dengan banyak cengkok-cengkok didalamnya, sementara parikan bisa disebut juga pantunan, karena asal mula kata parikan beasal dari kata ‘pari’ yang berarti padi. “Susunan parikan 4 kata, na-na, na-na, na-na, na-na, papat larik, isinya biasanya cinta, petuah, nasihat, curhatan atau balada”, ungkap Wito. (Rizqy)

Baca Juga:
Ludruk Goes To Campus, Terobosan Kenalkan Ludruk ke Anak Muda

Iklan

One thought on “Teater Sinden UMM dan Tunggak Semi Gelar Diskusi Malang Ngeludruk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s