Melawan Lupa Pejuang HAM Munir

Didirikan atas dasar lambatnya penyelesaian kasus pembunuhan Munir yang sampai sekarang ini belum jelas, museum yang terletak di desa Sidomulyo, Kecamatan Bumiaji ini merupakan upaya dan bentuk nyata ekspresi Sahabat-sahabat Munir dalam mendukung terungkapnya otak dibalik kasus 2004 silam.

IMG_9238

Suasana tampak modern, bersih, ber-display-kan materi-materi kisah yang berhubungan dengan almarhum, ditambah sejumlah barang terpajang dalam rumah berluaskan lebih dari 450 meter persegi. Tampak luar memang seperti rumah tinggal biasa pada umumnya yang tidak akan terpikir menjadi tempat wisata museum sejarah.

Rumah milik Munir ini pernah ditinggali keluarga Munir pada tahun 2001 dan sejak kasus Munir diracun pada 7 September 2004, istri Munir, Suciwati beserta anak-anakanya tidak lagi menempati rumah yang beralamatkan di Jalan Bukit Berbunga nomer 2 kota Batu. Perjuangan Suciwati untuk mengungkap kasus Munir 9 tahun lalu saat hendak menuju Belanda untuk keperluan melanjutkan studi S-2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht membuatnya bolak-balik Jakarta-Malang, sehingga rumah yang dirasakan anak bungsunya terlalu luas ini kosong dan pernah dikontrakkan.

Suasana didalam museum terpajang data-data mengenai almarhum Munir, patung-patung pejuang HAM, serta barang-barang peninggalan Munir yang pernah dipakai semasa hidupnya.
Suasana didalam museum terpajang data-data mengenai almarhum Munir, patung-patung pejuang HAM, serta barang-barang peninggalan Munir yang pernah dipakai semasa hidupnya.

Sempat dibobol maling beberapa bulan lalu yang hingga kini belum tertangkap siapa pelakunya, inisiatif akhirnya muncul untuk mendirikan sebuah komunitas, yakni Komunitas Munir yang beranggotakan Sahabat-sahabat Munir dan aktivis. Meskipun rumah 2 lantai ini kosong, namun berkas-berkas Munir ikut dicuri termasuk laptop dan kamera. Maka dari itu dibuatlah sebuah museum agar rumah ini dapat difungsikan kembali dengan barang-barang dan pengamanan yang jelas serta bermanfaat bagi umum.

Penggalangan dana untuk membuat museum dilakukan oleh Komunitas Munir seluruh Indonesia dan Gerakan Melawan Lupa pada 2013 lalu di Ibu kota DKI Jakarta yang diorganisasikan oleh aktivis dari Jakarta dan Malang. Komunitas Munir tidak sembarangan dalam menerima dana dari khalayak umum. Nama-nama donator harus bersih dari kasus korupsi dan tidak pernah terlibat kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta independen, tidak berasal dari kelompok atau partai tertentu.

IMG_9157

Tepat dengan hari ulang tahun Munir tanggal 8 Desember 2013 lalu berdirilah museum sejarah Omah Munir, nama yang mengandung unsur Jawa dan terkesan sederhana serta terbuka bagi umum. Dibantu teman-teman dan aktivis, tim Komunitas Munir tidak sampai 1 minggu mempersiapkan materi dari berbagai pihak dan menata ulang dalam rumah. Hadir dalam soft launching keluarga Munir selaku yang punya “gawenan”, Walikota Batu Edy Rumpoko beserta Wakil Walikota batu Punjul Santoso, wakil Walikota Malang Sutiaji, ekonom sekaligus politikus Faisal Basri, perwakilan dari Dirjen Kemenkumham, perwakilan dari Komnas HAM, Usman Hadmid aktivis Kontras, pemeran teater dan pelawak Butet Kertaradjasa, serta 2 keluarga yang anaknya tewas dalam peristiwa Samanggi tahun 1998.

Heni Rahmawati, pengelola Omah Munir mengatakan sudah sebulanan ini sebanyak lebih dari 390 pengunjung telah berkunjung ke museum yang dibuka dari pukul 07.00 sampai 15.00 WIB ini. “Banyak yang tanyak pas liburan kemarin, apa sih museum Munir itu. Kita sudah menyebarkan undangan ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, social media dan website”, kata Heny. Wanita asal desa sebelah yakni desa Bulukerto ini menyatakan dalam Undang-undang (UU) Perburuhan harus ada hari libur bagi pekerja, dan Seninlah yang dipilih pihak manajemen sebagai hari libur untuk museum, selain ‘moster day’, wisatawan banyak yang berwisata kebanyakan saat weekend tiba. (Rizqy)

IMG_9138

IMG_9139

IMG_9143

IMG_9148

IMG_9197

IMG_9200

Buku-buku koleksi almarhum yang rencananya akan ditata ulang dan saat ituakan dibangun untuk ruang baca.
Buku-buku koleksi almarhum yang rencananya akan ditata ulang dan saat ituakan dibangun untuk ruang baca.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s