Karena Masa Kecil dan Prihatin, Ketua RW Bentuk Kelompok Dolanan

“Tok… Tok… Tok…,” di sudut halaman sebelah barat suara batang bambu yang berbenturan dengan tanah menambah riuh suasana ditengah kumpulan anak-anak lain yang berkejaran menendang bola. Di depan halaman gedung pertunjukan tua yang luas di Kampung Celaket itu, dua orang bocah SD asyik melawan gravitasi di sepasang bambu. Mereka adalah Dela dan Firman saling adu ketetahanan berdiri di sepasang bambu tanpa menghiraukan teriakan teman-teman lainnya berebut bola. Tawanya mereka pecah tatkala Firman oleng dan terjerembab di tanah.

3

Sore itu, permainan langka tersebut kembali ditemukan. Di tengah banjirnya teknologi dan arus internet, dua bocah itu masih memilih bermain Egrang. Sepasang bilah bambu itu menguarkan aroma cat yang menyeruak menusuk hidung karena terkelupas disana sini dan bambu bagian bawahnya mulai retak-retak, namun mereka tetap semangat belajar mondar-mandir seperti balita yang belajar berjalan.

Permainan Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang dapat dimainkan dimana saja tanpa membutuhkan lahan yang luas, bahkan di pinggir pantai sekalipun. Cara bermainnya sangat sederhana, yaitu pemain harus bisa menjaga keseimbangan diatas bambu, lalu berjalan bahkan berlari, ditambah atraksi kecil seperti memutar selah satu bambu membuat permainan menjadi menantang, melawan gravitasi.

Achmad Winarto, Ketua RW Kampung Celakat sekaligus pemilik Egrang itu menjelaskan mengenai keberadaan Egrang yang semakin ditenggelaman teknologi. “Padahal mainan tradisional ini lebih mudah didapat karena bahannya ada di lingkungan sekitar,” ujarnya dengan nada prihatin saat ditemui di rumahnya (9/5). Ia adalah salah satu penggerak permainan tradisional di Kampung Celaket.

Cak Win, sapaan karabnya, membuat beberapa pasang Egrang dan meminjamkan pada anak-anak Kampung Celaket. Rindu masa kecil dan rasa prihatinlah yang menjadi alasan ia ingin menggemakan kembali mainan tradisional. Lomba Egrangpun kerap digelar untuk meletupkan semangat anak-anak Celaket dalam memainkan permainan tradisional itu.

Melihat kondisi permainan tradisional yang kian terpinggirkan, ia berinisiatif membuat kelompok dolanan tradisional bersama beberapa rekannya. Meski usianya lebih dari 50 tahun, ia tetap semangat mengenalkan Egrang dan beberapa mainan tradisional lainnya seperti gasing dan dakon.

Jumlah anak-anak yang masih melirik Eggrang kian menyusut. Hal ini diamini oleh Agung, salah satu anak kelas 5 SD yang tinggal di daerah tersebut. “Enggak pernah belajar main Egrang”, ujarnya sambil malu-malu sambil mencoba berkali-kali berdiri diatas Egrang namun gagal. Ia mengatakan bahwa ia menyukai Egrang lantaran sering melihat beberapa kawannya berlatih. Meskipun demikian, ia tidak pernah mencoba dan berlatih.

Ia adalah salah satu gambaran dari kondisi anak-anak kini yang mulai acuh tak acuh terhadap budaya, kususnya permainan. Permainan tradisional telah banyak berkembang menjadi model teknologi, seperti gundu misalnya. Jika dulu untuk memainkan gundu harus bersama teman lainnya, maka saat ini gundu mudah didapat dalam teknologi aplikasi internet.

Permainan tradisional secara umum memiliki banyak dampak positif seperti melatih kekompakan, melatih anak untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungan tempat ia tinggal, melatih intuisi, cekatan dalam bertindak, melatih anak untuk mampu bekerjasama, memiliki kepekaan, mengembangkan kreativitas secara aktif, dan mampu mengembangkan strategi.

Jika dinilai dari segi ekonomi, permainan tradisional Egrang jauh lebih murah meriah dibanding permainan modern lainnya yang membutuhkan dana lebih. Dalam pembuatannya, peralatan yang digunakan untuk sepasang Eggrang yaitu sepasang bambu yang lurus dan sudah tua. Masing-masing bambu panjangnya antara 1,5-3 meter. Kemudian untuk pijakannya, bambu tersebut masing-masing dipotong sekitar 20-30 cm. Setelah itu, salah satu ruas bambu dilubangi dan dimasukkan bambu pendek yang telah dipotong tadi sebagai tempat pijakan kaki. Agar terlihat semakin menarik, Egrang dicat dengan warna-warna yang menarik. Eggrang pun siap digunakan untuk beraksi. Asyik, kan? (Holfi)

Baca Juga:
Merekam Langkah Arema!Ker dalam Menyelamatkan Gamelan

Selain mahir menggunakan Egrang, Dela juga dapat memutar-balikkan Egrang tersebut tanpa terjatuh
Selain mahir menggunakan Egrang, Dela juga dapat memutar-balikkan Egrang tersebut tanpa terjatuh
Selain Egrang, anak-anak kampung Celaket juga mahir dalam permainan tradisional  Bakiak
Selain Egrang, anak-anak kampung Celaket juga mahir dalam permainan tradisional Bakiak
Iklan

4 thoughts on “Karena Masa Kecil dan Prihatin, Ketua RW Bentuk Kelompok Dolanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s