Melirik Cerita Seniman Jalanan

IMG_8293

Tak ada rotan akar pun jadi. Mungkin itu yang dipikiran Suderi (67 tahun), ketika menuangkan ide dan pikiran dalam sebuah kertas.

Pria kelahiran Malang itu telah melalang buana sebagai seniman jalanan setelah lulus dari Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1961. Keahlian melukis digelutinnya sejak Sekolah Dasar (SD). Biasanya, pria bertopi itu selalu memadukan lukisannya dengan balutan kapur diatas goresan pensilnya. Di dunia seni, pria bertopi itu lebih dikenal dengan keahliannya sebagai seni memahat atau seni rupa.

Suderi saat melukis sket wajah pelanggannya.
Suderi saat melukis sket wajah pelanggannya.

Setiap lukisan wajah dihargai Rp 50.000. Sedangan jasa untuk seni pahatnya akan disesuaikan dengan budget pelanggannya. Contohnya saja, Patung Ken Arok yang menjadi ikon Jawa Timur Park (Jatim Park) menghabiskan dana sebesar Rp 45.000.000.

Beberapa karyanya yang lain adalah patung raksasa tidur yang berada depan Stasiun Kota Malang, Patung Kendedes yang berada di Arjosari sebagai simbol Kota Malang yang bekerjasama dengan Komunitas Seni Kolektif Jakarta. Biasanya setiap hari minggu, ia bersama temannya membuka lapak di Car Free Day (CFD) mulai pukul 08.00 sampai pukul 12.00 WIB.

Sebagai seniman jalanan, Suderi juga tidak luput dari kendala saat berkarya. Terkadang ia harus berhadapan dengan cuaca yang tak menentu dan cercaan orang yang tak menyukai hasil karyanya. Namun, ia tetap menjalaninya dengan ikhlas, tulus dan bersyukur atas apa yang sudah ia lakukan dan bisa terus berkaya. “Orang boleh meghina profesi ini, tapi saya percaya jika kita tulus dan ikhlas dengan apa yang kita jalani, pasti Tuhan menyimpan keindahan dibalik ini semua” ujar Pria yang identik dengan topi itu.

Profesi sebagai seniman tersebut sudah membawanya ke berbagai kota di Indonesia. Diantaranya Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan Bandung. Berkat keteguhannya dalam menghadapi berbagai rintangan, ia berhasil menggelar pameran tunggal Seni Rupa dari hasil karyanya yang terselenggara di Gedung Kesenian Surabaya dan akan menggelar pameran kedua pada awal bulan Februari 2015 di Klenteng Jl. Martadinata 1, Kota Malang.

Seakan tak puas akan keahlian yang dimiliki. Ia juga membuka sanggar Tutur Gumelar yang berada di daerah Mergosono Gg 05. Setiap Senin malam pukul 20.00 WIB, ia mengajarkan Tari Topeng Malangan kepada anak sekitar sanggar. “Saya mendirikan sanggar ini dengan tujuan untuk melestarikan budaya Indonesia, dengan demikian secara perlahan anak-anak muda mengagumi budayanya sendiri,” Beberapa pertunjukan pernah diikuti oleh anak didiknya, diantaranya saat Kampung Cemplok, ataupun terkadang diundang untuk tampil di acara hajatan ataupun pernikahan. (Winda)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s