Menengok Pasangan Soesmedi, Seniman Pengrajin Wayang Kulit

Miris memang melihat kenyataanya bahwa anak-anak muda sekarang lebih menyukai sesuatu yang modern dibanding tradisional. Meskipun peminat dari kalangan muda masih sedikit, Bapak Soesmedi dan Ibu Soesmedi tetap memilih menjadi pengerajin Wayang Kulit, ikon tradisional khas Malang.

IMG_8214

Soesmedi adalah pensiunan TNI Purnawirawan yang memiliki istri seorang penjahit. Berkat tangan-tangan pasangan inilah terlahir karya-karya wayang kulit yang sangat bagus dan bertahan hingga kini. Siapa yang menyangka jika pasangan suami istri itu dulunya adalah seorang TNI Purnawirawan dan penjahit?

Selain itu, profesi sebagai pengerajin Wayang Kulit dilatarbelakangi oleh dana pensiun sebagai TNI yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bakat seni dalam memahat ia peroleh dari keluarganya yang memiliki latar belakang keluarga seni. Kini setiap bulan ia mampu memperoleh keuntungan sedikitnya Rp 2.000.000 hingga Rp 7.000.000 juta perbulan.

Contoh susunan hasil kerajinan Wayang Kulit pasangan Soesmedi.
Contoh susunan hasil kerajinan Wayang Kulit pasangan Soesmedi.

Hal tersebut berbuah manis, seluruh anak-anaknya kini menjadi orang-orang yang sukses. Anak pertama menjadi Pembina Pramuka Kota Malang, anak yang kedua bekerja di sebuah Bank swasta, dan yang ketiga membuka sebuah usaha kuliner.

Pembuatan Wayang
Ditemui pada acara pameran kesenian di Museum Brawijaya (30/12), Ibu Soesmedi menjelaskan kronologi Wayang Kulit buatannya. Mereka mulai membuat wayang kulit pada tahun 1989. Dalam pengerjaannya, mereka memiliki peran masing-masing. Suaminya, adalah orang yang bertugas memahat hingga berbentuk wayang sedangkan ia yang mewarnainya. Dalam proses pembuatannya terkadang dibantu oleh anak-anaknya jika sedang tidak bekerja.

Proses pemberian warna oleh Ibu Soesmedi pada wayang agar dapat menghidupkan karakter setiap tokoh wayang.
Proses pemberian warna oleh Ibu Soesmedi pada wayang agar dapat menghidupkan karakter setiap tokoh wayang.

Keahlian memahat kulit sapi hingga menjadi Wayang Kulit tersebut didapat dari keluarganya yang memiliki keterampilan serupa. Bahan baku kulit sapi tersebut didapat dari limbah pabrik rambak. Sehingga hal tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga ikut menjaga lingkungan dengan kegiatan mendaur-ulang.
Proses pemahatan dalam ukuran ukuran besar membutuhkan waktu seminggu dan pengecatan warna selama dua minggu. Pengecatan membutuhkan waktu yang lama karena setiap wayang mempunyai karakter yang berbeda-beda. Pemberian warna cat pada wayang tidak boleh sembarangan.

Sehingga, untuk mengenal karakter dan pakem semua tokoh, Ibu Soesmedipun harus belajar perwayangan dari buku primbon kuno. Hal tersebut penting karena setiap warna mengandung sebuah makna sekaligus dapat menghidupkan karakter setiap tokoh perwayangan.

Harga setiap wayang mulai dari Rp. 200.000 (dengan bahan baku kulit sapi) hingga Rp.800.000 (berbahan baku kulit asli mentahan). Selai bahan baku, tekstur dan kerumitan dalam pemahatan juga menjadi faktor bervariasinya harga. Hingga kini, penjualan Wayang Kulit buatan mereka telah menembus luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Lampung. Kegemaran pasangan tersebut dalam mengikuti pameran–pameran budaya yang diselenggarakan, membuat kerajinan Wayang Kulit Soesmedi dikenal di berbagai pelosok. (Dila)

Stand kerajinan wayang Kulit Soesmedi dalam Musium Brawijaya Fair akhir tahun kemarin.
Stand kerajinan wayang Kulit Soesmedi dalam Musium Brawijaya Fair akhir tahun kemarin.
Selain membuat wayang orang-orangan, Sosmedi juga membuat gantungan kunci tokoh-tokoh perwayangan yang ia jual seharga Rp 10.000 saja.
Selain membuat wayang orang-orangan, Sosmedi juga membuat gantungan kunci tokoh-tokoh perwayangan yang ia jual seharga Rp 10.000 saja.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s